Terhubung SAPA

Agenda

Data Kemiskinan

Hubungi Kami

Video

Fotografi

Biaya Kesehatan Mahal Pemicu Angka Kemiskinan

JAKARTA.- Rakyat Indonesia terancam hidupnya akibat biaya kesehatan yang sangat tinggi mencapai 80 persen (out of pocket cost). Oleh karena itu, biaya kesehatan sangat berpengaruh terhadap meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia. Fakta di lapangan kerap terdengar sebutan "sadikin" atau "sakit sedikit miskin" dan "darwis" atau "modar ya wis".

Direktur Program Pascasarjana Universitas Paramadina, Dinna Wisnu PhD mengatakan, saat ini hanya sekitar 3 persen rakyat Indonesia yang memiliki jaminan kesehatan. Mereka pada umumnya adalah karyawan atau pegawai di instansi pemerintahan dan swasta lainnya. Selebihnya, terutama rakyat miskin tidak memiliki jaminan kesehatan ataupun jaminan sosial lainnya seperti jaminan di hari tua.

Oleh karena itu, Dinna mengkritik keras program-program bantuan sosial yang diberikan pemerintah berupa uang tunai sesaat kepada rakyat miskin. Yang dibutuhkan rakyat saat ini adalah jaminan sosial yang merata. "Pendekatan saat ini (bantuan sosial) hanya pura-pura peduli saja pada orang miskin," ujarnya di sela peluncuran bukunya berjudul "Politik Sistem Jaminan Sosial" yang berlangsung di Kampus S2 Paramadina, Jln. Jend. Sudirman, Jakarta Selatan..

Dinna membeberkan standar kemiskinan di Indonesia yang sangat rendah dan tidak memperhitungkan variabel biaya kesehatan. Pemerintah menggunakan patokan garis kemiskinan menggunakan standar hidup Rp 212.000,- per bulan. Dengan standar tersebut, pemerintah mencatat ada sekitar 31 juta orang miskin. Padahal, ada sekitar 147 jutaan orang lain yang hidup mendekati garis kemiskinan, pendapatan mereka tak lebih dari Rp 313.000,- per bulan. "Sementara, harga pelayanan

kesehatan di Indonesia sama mahalnya dengan di negara semaju Malaysia. Di negara lain, upah minimum adalah standar kemiskinan. Di sini justru tidak," tuturnya.

Lulusan Ohio State University di AS itu mengatakan bahwa menghadapi integrasi ekonomi global seperti saat ini, Indonesia seperti melaut tanpa sekoci. Negara tak memiliki sistem jaminan yang dapat menjaga risiko yang sifatnya manusiawi seperti sakit, punya anak, kecelakaan kerja, pensiun, bahkan meninggal.

Padahal kekuatan perekonomian Indonesia ada di sektor domestik yang tak lain dilakukan oleh warganegaranya atau di orang-orang yang sekarang masuk kategori sektor informal, di perusahaan-perusahaan kecil menengah dan di perusahaan Indonesia yang mempekerjakan banyak orang Indonesia. "Sistem ekonomi pasar sekalipun tidak dapat berdiri sendiri tanpa sistem jaminan sosial karena itu yang menghidupi pelaku usaha juga, semua membutuhkan sistem jaminan sosial. Negara yang tidak memiliki itu, akan rapuh," katanya.

 

Sumber :kebijakankesehatanindonesia.net

Terpopuler

Terbaru

PARA PEREMPUAN DIAJAK TINGKATKAN AKTIVITAS POLITIKNYA

PARA PEREMPUAN DIAJAK TINGKATKAN AKTIVITAS POLITIKNYA

SAPA INDONESIA - PARA perempuan diajak untuk meningkatan aktivitas...
PENDAPATAN DAERAH OVER TARGET RP18,4 MILIAR

PENDAPATAN DAERAH OVER TARGET RP18,4 MILIAR

SAPA INDONESIA - PENDAPATAN Asli Daerah Pemerintah Kabupaten...
PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI DANA DESA MASIH MINIM

PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI DANA DESA MASIH MINIM

SAPA INDONESIA - BEBERAPA desa di Kabupaten Temanggung mengaku...
ANGKA INFLASI DAN KEMISKINAN DI KLATEN TURUN

ANGKA INFLASI DAN KEMISKINAN DI KLATEN TURUN

SAPA INDONESIA - PEMKAB Klaten mengklaim inflasi dan jumlah...

LAPOR!

Untitled Document

Terhubung dengan SAPA

Multimedia

Temukan Kami di Facebook