Terhubung SAPA

Agenda

Data Kemiskinan

Hubungi Kami

Video

Fotografi

Ekonomi RI Tumbuh 6,5%, Kemiskinan Meningkat

Produk domestik bruto (PDB) Indonesia 2011 mengalami pertumbuhan sebesar 6,5% jika dibandingkan dengan 2010. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi (10,7%), diikuti sektor perdagangan, hotel, dan restoran (9,2%), serta sektor keuangan, realestat, dan jasa perusahaan (6,8%).

Hal itu disampaikan Pjs Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin dalam konferensi pers di kantornya di Jakarta, kemarin. "PDB Indonesia 2011 atas harga berlaku mencapai Rp7.427,1 triliun atau lebih dari US$850 miliar," katanya.

BPS mencatat pertumbuhan terbesar disumbang oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 1,6% (13,8% dari PDB). Sebaliknya sumbangan sektor industri pengolahan dan sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan terus menurun.

Lebih lanjut Suryamin mengungkapkan, pendapatan per kapita juga meningkat. Pada 2011 pendapatan per kapita mencapai Rp30,8 juta (US$3.542,9), sedangkan pada 2010 hanya Rp27,1 juta (US$3.010,1).

Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyampaikan pertumbuhan ekonomi 6,5% itu ditopang pertumbuhan investasi yang mencapai 8,8%.

Pertumbuhan ekonomi pada 2009 banyak ditopang pertumbuhan konsumsi domestik. Kini, menurut Agus, peran investasi yang cukup besar membuat pertumbuhan ekonomi semakin nyata. "Sekarang kita bisa mencapai pertumbuhan 6,5%. Peran dari investasi sangat mencolok. Kita harapkan nanti pertumbuhannya di tahun 2012 investasi bisa 10%."

Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro menjelaskan pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi 2012 lebih meningkat lagi, mampu mencapai 6,7%.

"Karena itu, fokus pada 2012 ialah memacu pertumbuhan di investasi, baik di private sector maupun public sector, misalnya melalui belanja modal di APBN harus dioptimalkan," katanya.

Untuk menambah investasi, pemerintah harus mewaspadai hubungan industri dengan buruh yang termasuk dalam iklim investasi secara umum. Kepastian hukum dan izin investasi juga tidak boleh merugikan investor.

Orang kaya baru

Ekonom Aviliani menimpali bahwa pertumbuhan saat ini terjadi di sektor yang tidak menciptakan lapangan pekerjaan atau sektor non-tradable. Artinya, tidak terjadi pengentasan warga dari kemiskinan. Sektor industri pengolahan terbelit banyak masalah, seperti infrastruktur, birokrasi, perpajakan, dan korupsi. Adapun sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan juga terhambat masalah perizinan dan penyediaan lahan yang dinilai kecil. Karena itu, masuk akal jika kontribusinya terus menurun.

Peningkatan pendapatan per kapita pun, menurut Aviliani, terjadi karena banyaknya orang kaya baru di sektor pertambangan dan penggalian.

Selain itu, peningkatan pendapatan per kapita didominasi pendapatan kelas menengah yang dalam hitungan Aviliani mencapai 50 juta-60 juta orang. Ia menegaskan

bahwa pendapatan per kapita belum bisa dirasakan masyarakat yang hampir miskin dan miskin.

"Kita belum cukup mengurangi kemiskinan dan membawa masyarakat kepada kelas menengah. Soalnya 50% masyarakat kita masih berpendidikan SD yang sulit mencapai tingkatan kelas menengah."(X-17)

sumber : mediaindonesia.com

Terpopuler

Terbaru

PKH MENDORONG ANAK-ANAK PENERIMA MANFAAT UNTUK BERPRESTASI

PKH MENDORONG ANAK-ANAK PENERIMA MANFAAT UNTUK BERPRESTASI

SAPA INDONESIA - PROGRAM Keluarga Harapan (PKH) yang menjadi...
CEGAH URBANISASI, INFRASTRUKTUR DESA PERLU DIGENJOT

CEGAH URBANISASI, INFRASTRUKTUR DESA PERLU DIGENJOT

SAPA INDONESIA - PEMBANGUNAN wilayah pedesaan dalam program...
RATUSAN DESA BELUM PUNYA BUMDES

RATUSAN DESA BELUM PUNYA BUMDES

SAPA INDONESIA - RATUSAN desa di Pamekasan belum memiliki badan...
DESA DIDORONG OPTIMALKAN PENYERAPAN DANA DESA

DESA DIDORONG OPTIMALKAN PENYERAPAN DANA DESA

SAPA INDONESIA - SAAT ini, masih ada satu desa di Boyolali,...

LAPOR!

Untitled Document

Terhubung dengan SAPA

Multimedia

Temukan Kami di Facebook