penanggulangan kemiskinan, melawan pemiskinan, kemiskinan, angka kemiskinan, data kemiskinan, pengentasan kemiskinan, tkpk, IKRAR, pnpm mandiri SAPA INDONESIA - ALIANSI STRATEGIS MELAWAN PEMISKINAN

Terhubung SAPA

Agenda

Data Kemiskinan

Hubungi Kami

Video

Fotografi

DATA KEMISKINAN TIDAK AKURAT SEBABKAN TINGGINYA ANGKA KEMISKINAN

Data

SAPA - Berbagai program penanggulangan kemiskinan baik yang berasal dari pusat, provinsi maupun kebupaten telah dilaksanakan, namun angka kemiskinan masih tinggi. Berbagai permasalahan dimungkinkan menjadi kendala, seperti egosektoral tiap-tiap SKPD, kurang koordinasi antar anggota Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) hingga data base yang tidak akurat.

Hal tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi (rakor) penanggulangan kemiskinan tahun 2013 Kabupaten Purworejo, (16/12), di aula rumah sakit "Saras Husada". Rakor diikuti anggota TKPKD, sekitar 70 orang, dibuka Sekda Drs Tri Handoyo MM.

Ketua TKPKD yang juga Wakil Bupati Purworejo Suhar, yang direncanakan memimpin rapat, berhalangan hadir. Rakor diselenggarakan dengan paparan, diskusi dan tanya jawab menghadirkan tiga nara sumber, dari Bapeda Provinsi Jawa Tengah, praktisi sosial, dan Bappeda Kabupaten Purworejo.

Kasubbid Kependudukan dan Keluarga Berencana pada Bapeda Provinsi Jawa Tengah Ir Arif Budianto MSi mengungkapkan bahwa apabila bicara kemiskinan, tidak bisa membandingkan pendapatan satu orang dengan yang lain. Yang dijadikan pedoman adalah kemiskinan absolut. Berdasarkan data statistik yang dimiliki 2013, pembangunan ekonomi Jateng pada posisi 6,1. angka kemiskinan 14,56 (4,27 juta jiwa), pengangguran terbuka naik dari 5,63 – 6,02. IPM pada posisi 73,36.

Ia mengakui kemiskinan meliputi multidimensi. Untuk itu ia berpendapat bahwa penanggulangan kemiskinan hendaknya dilakukan secara multi sektoral. Sayangnya tiap-tiap sektor mendefinisikan kemiskinan berbeda-beda tergantung kebutuhan mereka.

Disisi lain data kemiskinan yang akurat tidak ada. Data yang selama ini digunakan hasil pendataan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Perolehan data hanya berdasarkan sampel-sampel per blok, tidak dilakukan sensus. Sehingga ketika butuh data nama dan alamat masyarakat miskin, tidak akan ditemukan. Banyak masyarakat yang mengaku miskin tetapi tidak masuk data, dan sebaliknya. Sehingga banyak yang mengatakan program tidak tepat sasaran.

Ketidaktetapan sasaran, menurutnya, ada beberapa faktor penyebab. Diantaranya, perbedaan pendapat siapa yang berhak dan yang tidak. Diiakui terdapat kesalahan data. Apalagi data yang dipakai hasil pendataan BPS 2011 lalu, padahal perkembangan kehidupan setiap hari bisa berubah. Pemberian program berdasarkan kuota, bukan bersifat kualitatip.

Nara sumber lain, Sadiman Al Kundarto, praktisi sosial dari Semarang mengungkapkan bahwa Indonesia kaya akan potensi, namun ironisnya angka kemiskinan tingi. Beberapa potensi yang dimiliki antara lain, dari segi manusia dengan memiliki orang pintar kaliber dunia, lulusan sarjana tiap tahun lebih dari seribu orang. Segi alami, sumber alam apa saja ada di Indonesia. Kelembagaan, punya organisasi mulai dari dasa wisma hingga yang tertinggi. Sistem nilai, gotong royong, setia kawan, peduli sosial sangat tinggi.

Namun mengapa masih banyak penduduk miskin, karena masyarakatnya kurang bersukur dan komitmennya rendah. Malas, kurang kreatif, kurang berani mengambil resiko. Suka jalan pintas, terbelenggu mitos, dan kurang kerja cerdas.

Ia membandingkan dengan negara tetangga. Misalnya Jepang 80% negaranya tandus, salju, rawan bencana, tidak punya bahan. Tetapi negara tersebut bisa menjadi raksasa dunia di bidang industri. Swiss hanya memiliki 11% daratan, namun bisa memiliki perusahaan coklat dan susu terbaik dan terbesar dunia.

Langkah untuk membangkitkan menangani kemiskinan, menurutnya, dengan mengembalikan sistem alam yang pernah ada, untuk kemakmuran bersama. Dilakukan kegiatan yang punya peluang pasar yang menjanjikan. Dengan membagun kemitraan dengan pelbagai pihak.

Dra Nurhidayati MM, Kabid Pemerintahan dan Sosial Budaya pada Bappeda Kabupaten Purworejo memaparkan bahwa, angka kemiskinan Kabupaten Puworejo di 2011 pada posisi 17,51%. Posisi ini diatas angka nasional (12,36%) dan proponsi (16,28%). Berdasarkan basis data terpadu Kabupaten Purworejo, dari 63.215 rumah tangga, terbanyak RTSM 24.212 (38,65%). RTM 19.502 (30,85%).

Priotitas penanggulangan kemiskinan, dilakukan melalui beberapa bidang. Yaitu bidang ketenagakerjaan, melalui upaya peningatan pendapatan pendududk miskin. Pendidikan, peningkatan angka partisipasi untuk SD/MI, SMP/MTs, dan angka buta huruf 15 tahun keatas. Kesehatan, menurunkan angka kematian banyi, balita, ibu melahirkan, dan prevalensi balita kekurangan gizi. Bidang infrastruktur, dengan penanganan infrastruktur dasar.

jatengprov dot go dot id
                                                               Penanggulangan Kemiskinan - Melawan Pemiskinan - Kemiskinan - Pengentasan Kemiskinan - TKPKD - Angka Kemiskinan - Data Kemiskinan - Musrenbang - PNPM Mandiri

Terpopuler

Terbaru

PEMDA DIDORONG BANTU SOSIALISASI SUBSIDI LISTRIK TEPAT SASARAN

PEMDA DIDORONG BANTU SOSIALISASI SUBSIDI LISTRIK TEPAT SASARAN

SAPA INDONESIA - SUBSIDI listrik untuk 18,7 juta pelanggan...
PERTUMBUHAN TINGGI TAK JAMIN BEBAS MASALAH KEMISKINAN

PERTUMBUHAN TINGGI TAK JAMIN BEBAS MASALAH KEMISKINAN

SAPA INDONESIA - GUBERNUR Bali Made Mangku Pastika mengatakan...
PEMBANGUNAN EKONOMI PERDESAAN BUTUH PENDAMPINGAN BERKELANJUTAN

PEMBANGUNAN EKONOMI PERDESAAN BUTUH PENDAMPINGAN BERKELANJUTAN

SAPA INDONESIA - SEJUMLAH kalangan menilai pengembangan ekonomi...
DIDUGA KORUPSI DANA DESA RP 500 JUTA, KADES DI GARUT DICOKOK POLISI

DIDUGA KORUPSI DANA DESA RP 500 JUTA, KADES DI GARUT DICOKOK POLISI

SAPA INDONESIA - POLISI meringkus pria berinisial Y (41), oknum...

LAPOR!

Untitled Document

Terhubung dengan SAPA

Multimedia

Temukan Kami di Facebook