penanggulangan kemiskinan, melawan pemiskinan, kemiskinan, angka kemiskinan, data kemiskinan, pengentasan kemiskinan, tkpk, IKRAR, pnpm mandiri SAPA INDONESIA - ALIANSI STRATEGIS MELAWAN PEMISKINAN

Terhubung SAPA

Agenda

Data Kemiskinan

Hubungi Kami

Video

Fotografi

MASYARAKAT MISKIN BELUM NIKMATI PERTUMBUHAN EKONOMI

Budget
SAPA
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir ternyata tidak cukup mampu untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi secara signifikan. Bahkan, pertumbuhan ekonomi tinggi pun tidak bisa membuat masyarakat menjadi lebih sejahtera.

Beberapa opini dan kritikan pun muncul terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ada yang beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak berkualitas dan hanya dinikmati oleh segilitir orang yaitu kalangan atas.

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi di triwulan I-2014 tercatat 5,21 persen. Memang harus diakui pelambatan pertumbuhan ekonomi kali ini karena upaya pemerintah maupun Bank Indonesia untuk menekan defisit transaksi berjalan.

Sayangnya dengan adanya pelambatan ekonomi di tahun ini justru semakin memperparah tingkat kemiskinan di Indonesia. Hal ini terlihat dari data Maret 2014, tercatat penduduk miskin sebanyak 28,28 juta orang (11,25 persen) atau mengalami peningkatan 0,11 juta orang dibandingkan dengan Maret 2013 sebesar 28,17 juta orang (11,36 persen).

"Pertumbuhan ekonomi pada 2013 yang mencapai 5,78 persen ternyata tidak diikuti oleh pengurangan jumlah penduduk miskin yang signifikan. Bahkan, di triwulan I-2014 melambat, justru malah menambah jumlah penduduk miskin," ujar peneliti ekonomi Indef, Eko Listyanto, baru-baru ini.

Sebenarnya pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah dalam beberapa tahun belakangan ini harus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas sesuai dengan janji-janji dalam APBN. Sayangnya, hal tersebut selalu diingkari, bahkan target-target cenderung meleset.

Pemerintah, selama ini, hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi secara makro tanpa menggeser sumber dari pertumbuhan ekonomi sehingga ada anomali pertumbuhan ekonomi tinggi tapi kesenjangan juga akan lebih tinggi.

Untuk itu, tambah Eko, jika ingin memperbaiki angka kemiskinan bisa dari sisi penyerapan anggaran maupun strategi defisit yang bisa dioptimalkan untuk membangun infrastruktur sehingga peran stimulus fiskal bisa dirasakan di tahun depan.

"Kalau saat ini belum terlihat peran APBN menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi belum terlihat," jelasnya.

Di samping itu, ungkap Eko dari sisi sektoral pemerintah perlu berpihak kepada sektor-sektor tradable seperti pertanian dan industri agar mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi dan menjadi solusi untuk merealisasikan tujuan inklusif sehingga mengurangi pengangguran, kemiskinan, maupun ketimpangan ekonomi.

"Sektor-sektor produktif ini harus benar-benar diperhatikan. Kalau APBN lebih fokus untuk membuat pembangunan industri dan pertanian lebih kondusif, maka dampaknya cukup signifikan dan menekan impor," imbuhnya.

Sulitnya menekan angka kemiskinan ini diakui oleh Badan Pusat Statistik (BPS), bahkan diperlukan treatment yang khusus agar penduduk miskin bisa naik kelas.

"Kalau kita lihat secara dari waktu ke waktu sejak tahun 2010 terjadi penurunan yang landai karena menurut pengamatan penduduk yang miskin sekarang pada taraf yang susah diturunkan drastis kecuali ada perlakuan khusus," jelasnya.


Kesenjangan Melebar

Besarnya angka kemiskinan ini erat kaitannya dengan ketimpangan ekonomi. Bahkan, dari data Bank Dunia tingkat konsumsi 10 persen rumah tangga paling kaya adalah 6,6 kali lebih tinggi dibanding 10 persen rumah tangga paling miskin pada 2002. Namun, kesenjangan tersebut semakin meningkat, saat ini sebesar 10 persen rumah tangga terkaya memiliki tingkat konsumsi lebih tinggi 10 kali dibandingkan 10 persen keluarga termiskin.

Hal tersebut merupakan tanda bahwa para pekerja tidak mampu meningkatkan pendapatannya selama beberapa tahun terakhir sehingga perlu adanya perluasan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendidikan untuk menciptakan mobilitas masyarakat.

"Meningkatnya ketimpangan membawa risiko bagi pertumbuhan dan kohesi sosial. Kebijakan-kebijakan promasyarakat miskin perlu dilakukan," ujar Ekonom Utama Bank Dunia, Ndiame Diop.

Jika melihat secara tren dari tahun ke tahun Gini Ratio mengalami peningkatan. Pada tahun 2004 Gini Ratio Indonesia hanya 0,32, tetapi pada 2011 angkanya berubah menjadi 0,41 dan bertahan sampai saat ini.

Pengamat ekonomi, Faisal Basri, mengatakan perlu ada perubahan yang mendasar pada ekonomi di negara Indonesia. Hal ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah ketimpangan yang semakin melebar.

Padahal, awalnya Indonesia memulai growth domestic product yang tidak terlalu berbeda dari negara tetangga, namun dalam satu dekade ini Korea Selatan mengalami kenaikan luar biasa disusul oleh China, bahkan saat ini Timor Leste telah menyalip Indonesia.

Tak bisa dimungkiri, meski angka kemiskinan menurun, tetapi di sisi lain jumlah orang terkaya mengalami peningkatan sekitar 20 persen. Dengan demikian, pertumbuhan pendapatan antara si kaya dan si miskin semakin timpang.

Bahkan, Faisal menunjukkan dari 100 kelompok masyarakat, pertumbuhan pendapatan orang-orang kaya luar biasa.

"Kalau dibandingkan seperti F1 banding bemo. Pertumbuhan rata-rata pendapatan penduduk 4,87 persen, kemiskinan turun, tapi trennya naik, artinya penurunan jumlah orang miskin melambat," pungkasnya.

koran-jakarta dot com
                                                     Penanggulangan Kemiskinan - Melawan Pemiskinan - Kemiskinan - Pengentasan Kemiskinan - TKPKD - Angka Kemiskinan - Data Kemiskinan - Musrenbang - PNPM Mandiri

Ekonomi Indonesia yang tumbuh tinggi dalam beberapa tahun terakhir ternyata tidak cukup mampu untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi secara signifikan. Bahkan, pertumbuhan ekonomi tinggi pun tidak bisa membuat masyarakat menjadi lebih sejahtera.

Beberapa opini dan kritikan pun muncul terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ada yang beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak berkualitas dan hanya dinikmati oleh segilitir orang yaitu kalangan atas.

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan ekonomi di triwulan I-2014 tercatat 5,21 persen. Memang harus diakui pelambatan pertumbuhan ekonomi kali ini karena upaya pemerintah maupun Bank Indonesia untuk menekan defisit transaksi berjalan.

Sayangnya dengan adanya pelambatan ekonomi di tahun ini justru semakin memperparah tingkat kemiskinan di Indonesia. Hal ini terlihat dari data Maret 2014, tercatat penduduk miskin sebanyak 28,28 juta orang (11,25 persen) atau mengalami peningkatan 0,11 juta orang dibandingkan dengan Maret 2013 sebesar 28,17 juta orang (11,36 persen).

“Pertumbuhan ekonomi pada 2013 yang mencapai 5,78 persen ternyata tidak diikuti oleh pengurangan jumlah penduduk miskin yang signifikan. Bahkan, di triwulan I-2014 melambat, justru malah menambah jumlah penduduk miskin,” ujar peneliti ekonomi Indef, Eko Listyanto, baru-baru ini.

Sebenarnya pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah dalam beberapa tahun belakangan ini harus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas sesuai dengan janji-janji dalam APBN. Sayangnya, hal tersebut selalu diingkari, bahkan target-target cenderung meleset.

Pemerintah, selama ini, hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi secara makro tanpa menggeser sumber dari pertumbuhan ekonomi sehingga ada anomali pertumbuhan ekonomi tinggi tapi kesenjangan juga akan lebih tinggi.

Untuk itu, tambah Eko, jika ingin memperbaiki angka kemiskinan bisa dari sisi penyerapan anggaran maupun strategi defisit yang bisa dioptimalkan untuk membangun infrastruktur sehingga peran stimulus fiskal bisa dirasakan di tahun depan.

“Kalau saat ini belum terlihat peran APBN menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi belum terlihat,” jelasnya.

Di samping itu, ungkap Eko dari sisi sektoral pemerintah perlu berpihak kepada sektor-sektor tradable seperti pertanian dan industri agar mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi dan menjadi solusi untuk merealisasikan tujuan inklusif sehingga mengurangi pengangguran, kemiskinan, maupun ketimpangan ekonomi.

“Sektor-sektor produktif ini harus benar-benar diperhatikan. Kalau APBN lebih fokus untuk membuat pembangunan industri dan pertanian lebih kondusif, maka dampaknya cukup signifikan dan menekan impor,” imbuhnya.

Sulitnya menekan angka kemiskinan ini diakui oleh Badan Pusat Statistik (BPS), bahkan diperlukan treatment yang khusus agar penduduk miskin bisa naik kelas.

“Kalau kita lihat secara dari waktu ke waktu sejak tahun 2010 terjadi penurunan yang landai karena menurut pengamatan penduduk yang miskin sekarang pada taraf yang susah diturunkan drastis kecuali ada perlakuan khusus,” jelasnya.

 
Kesenjangan Melebar

Besarnya angka kemiskinan ini erat kaitannya dengan ketimpangan ekonomi. Bahkan, dari data Bank Dunia tingkat konsumsi 10 persen rumah tangga paling kaya adalah 6,6 kali lebih tinggi dibanding 10 persen rumah tangga paling miskin pada 2002. Namun, kesenjangan tersebut semakin meningkat, saat ini sebesar 10 persen rumah tangga terkaya memiliki tingkat konsumsi lebih tinggi 10 kali dibandingkan 10 persen keluarga termiskin.

Hal tersebut merupakan tanda bahwa para pekerja tidak mampu meningkatkan pendapatannya selama beberapa tahun terakhir sehingga perlu adanya perluasan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendidikan untuk menciptakan mobilitas masyarakat.

“Meningkatnya ketimpangan membawa risiko bagi pertumbuhan dan kohesi sosial. Kebijakan-kebijakan promasyarakat miskin perlu dilakukan,” ujar Ekonom Utama Bank Dunia, Ndiame Diop.

Jika melihat secara tren dari tahun ke tahun Gini Ratio mengalami peningkatan. Pada tahun 2004 Gini Ratio Indonesia hanya 0,32, tetapi pada 2011 angkanya berubah menjadi 0,41 dan bertahan sampai saat ini.

Pengamat ekonomi, Faisal Basri, mengatakan perlu ada perubahan yang mendasar pada ekonomi di negara Indonesia. Hal ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah ketimpangan yang semakin melebar.

Padahal, awalnya Indonesia memulai growth domestic product yang tidak terlalu berbeda dari negara tetangga, namun dalam satu dekade ini Korea Selatan mengalami kenaikan luar biasa disusul oleh China, bahkan saat ini Timor Leste telah menyalip Indonesia.

Tak bisa dimungkiri, meski angka kemiskinan menurun, tetapi di sisi lain jumlah orang terkaya mengalami peningkatan sekitar 20 persen. Dengan demikian, pertumbuhan pendapatan antara si kaya dan si miskin semakin timpang.

Bahkan, Faisal menunjukkan dari 100 kelompok masyarakat, pertumbuhan pendapatan orang-orang kaya luar biasa.

“Kalau dibandingkan seperti F1 banding bemo. Pertumbuhan rata-rata pendapatan penduduk 4,87 persen, kemiskinan turun, tapi trennya naik, artinya penurunan jumlah orang miskin melambat,” pungkasnya.

Terpopuler

Terbaru

KUTUH DIJADIKAN “ROLE MODEL” PEMBANGUNAN DESA DI BADUNG

KUTUH DIJADIKAN “ROLE MODEL” PEMBANGUNAN DESA DI BADUNG

SAPA INDONESIA - WAKIL Bupati Badung, Ketut Suiasa, menegaskan...
PEMERINTAH BAKAL TAMBAH DANA DESA 10% DI TAHUN DEPAN

PEMERINTAH BAKAL TAMBAH DANA DESA 10% DI TAHUN DEPAN

SAPA INDONESIA - KEMENTERIAN Keuangan (Kemenkeu) melalui Direktorat...
KEMISKINAN BENGKULU DAN JANJI KPK YANG DILUPAKAN SANG GUBERNUR

KEMISKINAN BENGKULU DAN JANJI KPK YANG DILUPAKAN SANG GUBERNUR

SAPA INDONESIA - GUBERNUR BENGKULU Ridwan Mukti bersama istrinya,...
DANA DESA TAK KUNJUNG CAIR, KEPALA DESA BERANG PEMBANGUNAN TERHAMBAT

DANA DESA TAK KUNJUNG CAIR, KEPALA DESA BERANG PEMBANGUNAN TERHAMBAT

SAPA INDONESIA - PENCAIRAN Dana Desa di Kabupaten Purworejo...

LAPOR!

Untitled Document

Terhubung dengan SAPA

Multimedia

Temukan Kami di Facebook