Penanggulangan Kemiskinan, Melawan Pemiskinan, PKH, Raskin, Jamkesmas, Jamkesda, BLT, BOS, BSM, PNPM Mandiri, KUR SAPA INDONESIA - ALIANSI STRATEGIS MELAWAN PEMISKINAN

Terhubung SAPA

Agenda

Data Kemiskinan

Hubungi Kami

Video

Fotografi

19 PERSEN MASYARAKAT SAJA YANG TAHU PENGOBATAN TB GRATIS

kemiskinan-pemiskinan-tbc

SAPA - Sudah bukan rahasia lagi bahwa penyakit Tuberculosis (TB/TBC) erat kaitannya dengan kemiskinan, sehingga penderita enggan berobat karena menganggap obat TB mahal padahal obat TB diberikan gratis di puskesmas dan RS hingga penderitanya sembuh. Namun sayangnya, menurut Subdit TB Kementerian Kesehatan, hanya 19 persen masyarakat yang tahu bahwa, obat TB diberikan gratis di puskesmas dan RS.

Kendala ekonomi/kemiskinan menyebabkan banyak penderita TB enggan berobat karena berpikir biaya pengobatan TB/TBC mahal. "Masih banyak masyarakat yang belum tahu bahwa obat TB diberikan Gratis di puskesmas/RS, padahal obat TB digratiskan sampai pasien dinyatakan sembuh," kata Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemkes Tjandra Yoga Aditama kepada pers dalam diskusi Tuntaskan pengobatan TB selama 6 bulan agar terhindar dari TB-MDR, di Acasia Jakarta, Senin (11/3).

Selain itu menurutnya, masyarakat menganggap enteng penyakit ini, padahal penyakit TB jika tidak diobati tuntas akan sama bahayanya dengan HIV/AIDS karena dapat menyebabkan kematian. Penyakit TB dapat menyerang siapapun, terutama usia produktif antara 15-50 tahun juga anak-anak. Sering kali penderita TB datang sudah dalam keadaan cukup parah.

Tjandra Yoga mengatakan, jika datang ke puskesmas atau RS pemeriksaan diagnosis dan obat TB digratiskan dalam bentuk paket. "Satu pasien akan disiapkan 1 paket untuk 6 bulan yang akan diberikan rutin oleh puskesmas ketika berobat, sampai sembuh," ungkapnya.

Hal ini juga, yang mengakibatkan terlambatnya deteksi dini TB. Selain itu, ketidakpatuhan pasien dalam pengobatan juga menyebabkan munculnya kuman TB yang kebal obat (resisten)/TB- MDR." Obat yang harus diminum banyak, efek samping obat pun banyak, sehingga tidak jarang pasien malas minum obat teratur sesuai yang dianjurkan, bahkan mereka sampai putus asa dan berhenti minum obat, akibatnya TB nya sukar disembuhkan," ujarnya.

Selain itu, kemiskinan juga menjadi salah satu penyebab tingginya kasus TB, karena lingkungan kumuh, kotor dan padat merupakan tempat berkembangbiaknya kuman penyakit, demikian sebaliknya TB merupakan penyebab kemiskinan, tidak hanya bagi si penderita, melainkan juga bagi keluarga dan masyarakat. "Keberhasilan penanganan TB turut menentukan keberhasilan pengentasan kemiskinan dan pengentasan kemiskinan merupakan salah satu syarat menurunkan kasus TB," ujarnya.

Untuk itu kata dia, strategi DOTS harus dilakukan berkelanjutan bersama dengan penguatan seluruh aspek pelayanan kesehatan dasar didukung dengan upaya promotif, preventif dan rehabilitatif. Program TB pun harus terintegrasi dengan program pengentasan kemiskinan.

Sementara Koordinator Paguyuban Pendamping MDR-TB, Indra mengatakan, warga miskin penderita TB kesulitan untuk menjangkau tempat pelayanan kesehatan meskipun obatnya diberikan gratis. "Dari 133 pasien yang didampingi ada 27 orang yang tidak melanjutkan pengobatan, disebabkan kendala biaya transportasi, kurangnya dukungan keluarga selama menjalani pengobatan yang berbulan-bulan, banyaknya efek samping pengobatan TB seperti mual, pusing, tuli, pingsan, muntah dan berhalusinasi," ungkapnya.

Dikemukakannya, pasien dengan TB terutama penderita TB-MDR pun sulit untuk mencari nafkah karena efek samping obat dan fisik yang lemah, akibatnya pasien TB yang miskin akan semakin miskin.

Direktorat P2PL Kemenkes menyebutkan, bahwa tantangan TB di Indonesia diantaranya, masih tingginya beban TB yaitu setiap tahun masih ada 450.000 kasus baru dan 65.000 meninggal karena TB atau 178 orang per hari. Komitmen pemerintah lokal masih belum optimal dalam kontribusi keuangan, pengendalian TB, mutu pelaksanaan DOTS di RS, Klinik dan dokter praktek swasta masih belum optimal, meningkatnya resistensi ganda kuman TB (TB-MDR) karena pengobatan yang tak sesuai standar, kurang patuh dan tidak tuntas berobat.

Di Indonesia tahun 2011, diperkirakan proporsi kasus TB yang menderita TB-MDR diantara kasus baru sekitar 1,9 persen dan 12 persen diantara kasus yang pernah diobati. Sementara laporan WHO 2012 diperkirakan, jumlah kasus TB MDR di antara kasus baru TB paru ternotifikasi sebesar 5.700 kasus dan 920 kasus TB MDR diantara kasus TB paru pengobatan ulang.

Kemkes menyebutkan, sejak tahun 1995 sebanyak 20 juta orang diselamatkan dan 51 juta pasien TB dapat disembuhkan, dimana angka kesembuhannya mencapai 85 persen. Pengobatan TB gratis dapat dilakukan di puskesmas dan rumah sakit, selain itu untuk pasien dengan MDR-TB (kebal obat/resisten) dapat dirujuk di 9 RS diantaranya, Jakarta di RS Persahabatan, Surabaya di RS dr. Soetomo, Malang di RS Saiful Anwar, Surakarta di RS dr. Moewardi, Makassar di RSUD Labuang Baji, Medan Rs Adam Malik, Bandung RS Hasan Sadikin, Denpasar RS Sanglah dan Yogyakarta di RS dr. Sarjito.

 

infopublik dot org

Terpopuler

Terbaru

WONOSOBO TERPILIH JADI PERCONTOHAN OPEN DATA KEUANGAN DESA

WONOSOBO TERPILIH JADI PERCONTOHAN OPEN DATA KEUANGAN DESA

SAPA INDONESIA - KEMENTERIAN Dalam Negeri memprediksi, alokasi...
DANA DESA STIMULASI PEMBENTUKAN 18.446 BUMDES

DANA DESA STIMULASI PEMBENTUKAN 18.446 BUMDES

SAPA INDONESIA - DANA desa sudah dicairkan sekira 95,54%. Sejak...
SLEMAN: 6 DESA BELUM REALISASIKAN BANTUAN

SLEMAN: 6 DESA BELUM REALISASIKAN BANTUAN

SAPA INDONESIA - PENYERAPAN Dana Desa (DD) di enam desa di...
MENDAGRI PERKIRAKAN DANA DESA 2018 CAPAI RP103 TRILIUN

MENDAGRI PERKIRAKAN DANA DESA 2018 CAPAI RP103 TRILIUN

SAPA INDONESIA - MENTERI Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo memperkirakan...

LAPOR!

Untitled Document

Terhubung dengan SAPA

Multimedia

Temukan Kami di Facebook