Kemiskinan, Penanggulangan Kemiskinan, Melawan Pemiskinan, Angka Kemiskinan, Data Kemiskinan, Pengentasan Kemiskinan, Musrenbang, TKPK, PNPM Mandiri SAPA INDONESIA - ALIANSI STRATEGIS MELAWAN PEMISKINAN

Terhubung SAPA

Agenda

Data Kemiskinan

Hubungi Kami

Video

Fotografi

PENGHUNI KOLONG JEMBATAN BERISTRI DUA

kemiskinan-sapa-trisno2istri

SAPA - Siapa sangka dengan kehidupan yang pas-pasan dan tinggal di kolong jembatan, Trisno punya istri dua dan anak-anak yang semakin besar.

Saat dikonfirmasi di kolong jembatan Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat, Trisno tampak santai dengan kaos putih dan celana panjang krem. Pria berkumis sesekali tersenyum saat ditanya soal awal mula kisah tinggal di kolong jembatan itu.

"Saya di sini sejak tahun 92. Saya ke sini dulunya bawa bajaj. Terus sering nongkrong di tenda tenda itu. Terus lihat-lihat ke bawah kok kayaknya asyik, saya turun. Akhirnya turun terus nggak naik-naik," tuturnya sambil tertawa.

Tempat tinggal Trisno terletak di sudut jembatan. Di depannya terletak beberapa peralatan masak lengkap. Di sudut kirinya ada tungku dengan kayu bakar.

Di dalam 'kamar' hanya ada sebuah lemari kecil ukuran 1m x 0,5 m yang diisi dengan baju-baju. Sebuah bantal kepala dan karpet juga terlihat sebagai pengalas. Kondisinya gelap tanpa penerangan.

"Ya begini ini kondisi kamarnya. Memang banyak nyamuk," terang Trisno.

Sehari-hari, Trisno bekerja sebagai sopir bajaj. Sore hari, dia juga memulung 'barang-barang' berharga yang hanyut di banjir kanal barat. Pendapatannya rata-rata Rp 25 ribu per hari.

"Ya, namanya pekerjaan pas-pasan. Uang juga nggak cukup. Jangankan buat ngontrak. Buat makan sama anak saja udah abis setengah. Jadi milih tinggal di sini," terangnya.

Soal keluarga, Trisno termasuk pria perkasa. Dia punya dua istri dan 10 anak. Istri pertama bekerja sebagai pembantu dan tinggal di Bogor, Jabar, bersama 8 anak mereka. Istri kedua bernama Tini, tinggal bersama Trisno di kolong jembatan. Dua anak dari Tini dan Trisno juga ikut tinggal di 'rumah' beratap beton itu.

"Anak saya lahir di sini. Di dukun dekat sini. Besar di sini. Sekarang tidurnya di luar," kenang Trisno.

Trisno kadang dirundung sedih bila hujan turun. Tak jarang, banjir juga kerap mengancam. Namun Trisno dan keluarganya tetap merasa betah di kolong jembatan.

"Ya, kalo betah ya betah juga. Namanya nggak ada pilihan. Pekerjaan juga itu-itu saja. Nggak dibawa susah sih. Kita juga nggak ada apa-apa ini," ungkapnya lagi sambil terkekeh.

 

 

Sumber : Detik dot com

Terpopuler

Terbaru

KUTUH DIJADIKAN “ROLE MODEL” PEMBANGUNAN DESA DI BADUNG

KUTUH DIJADIKAN “ROLE MODEL” PEMBANGUNAN DESA DI BADUNG

SAPA INDONESIA - WAKIL Bupati Badung, Ketut Suiasa, menegaskan...
PEMERINTAH BAKAL TAMBAH DANA DESA 10% DI TAHUN DEPAN

PEMERINTAH BAKAL TAMBAH DANA DESA 10% DI TAHUN DEPAN

SAPA INDONESIA - KEMENTERIAN Keuangan (Kemenkeu) melalui Direktorat...
KEMISKINAN BENGKULU DAN JANJI KPK YANG DILUPAKAN SANG GUBERNUR

KEMISKINAN BENGKULU DAN JANJI KPK YANG DILUPAKAN SANG GUBERNUR

SAPA INDONESIA - GUBERNUR BENGKULU Ridwan Mukti bersama istrinya,...
DANA DESA TAK KUNJUNG CAIR, KEPALA DESA BERANG PEMBANGUNAN TERHAMBAT

DANA DESA TAK KUNJUNG CAIR, KEPALA DESA BERANG PEMBANGUNAN TERHAMBAT

SAPA INDONESIA - PENCAIRAN Dana Desa di Kabupaten Purworejo...

LAPOR!

Untitled Document

Terhubung dengan SAPA

Multimedia

Temukan Kami di Facebook