Kemiskinan, Penanggulangan Kemiskinan, Melawan Pemiskinan, Angka Kemiskinan, Data Kemiskinan, Pengentasan Kemiskinan, Musrenbang, TKPK, PNPM Mandiri SAPA INDONESIA - ALIANSI STRATEGIS MELAWAN PEMISKINAN

Terhubung SAPA

Agenda

Data Kemiskinan

Hubungi Kami

Video

Fotografi

FAKTOR GIZI BURUK BUKAN KARENA KEMISKINAN TAPI KARENA POLA ASUH SALAH

kemiskinan-sapa-sukarwonyonya

SAPA - Fenomena balita dengan gizi buruk terjadi bukan karena faktor kemiskinan, namun lebih pada pola asuh yang salah sehingga jumlah makanan yang dikonsumsi bagus tapi kualitasnya tidak memenuhi standar gizi, menurut Ketua Tim Penggarak PKK Jatim, Dra Hj Nina Soekarwo MSi.

"Indikasi terjadinya gizi buruk, bisa dilihat dari berat badannya di bawah garis merah, bahkan penderita ada otaknya yang sampai dioperasi" katanya, di Sumenep, Rabu (3/4).

"Dinas Kesehatan harus mengambil peran mengatasi terjadinya gizi buruk. Pendampingan setiap bulan pada masyarakat dan mengajak anak yang berat badan di bawah garis merah ke Posyandu," katanya, seperti dilansir laman kominfo jatim.

Menurut dia, temuan gizi buruk di Jawa Timur terjadi progress penurunan 38 persen pasca monitoring dan evaluasi. Ia juga meminta agar tim penggerak PKK ikut aktif mendorong masyarakat yang memiliki balita, untuk rajin ke posyandu. Ini mengingat beberapa kasus gizi buruk dan gizi kurang, ditemukan terjadi pada balita yang tidak pernah dibawa ke Posyandu.

"Artinya para balita yang tidak dibawa ke posyandu ini kan tidak terdeteksi. Harusnya sebulan sekali rutin dibawa ke Posyandu untuk memantau berat badan putra putrinya. Di Jawa Timur tercatat ada 21 ribu posyandu yang bagus," ungkapnya.

Di Sumenep, sebanyak 23 balita ditemukan mengalami gizi buruk yang tersebar di 11 kecamatan. "Dari 23 kasus, 18 diantaranya merupakan kasus lama atau temuan tahun sebelumnya. Semuanya sudah ditangani. Dua anak sembuh, 1 anak meninggal, dan 20 dirawat intensif," kata Bupati Sumenep, KH A Busyro Karim.

Berdasarkan data, temuan gizi buruk di Sumenep setiap tahun menunjukkan penurunan. Tahun 2011 ditemukan 51 kasus gizi buruk, kemudian 2012 turun menjadi 26 kasus, dan tahun 2013 ditekan menjadi 23 kasus.

Dari hasil monitoring dan evaluasi di lapangan, kasus gizi buruk tidak hanya terjadi pada masyarakat miskin. Sebanyak 17,4 persen penderita gizi buruk justru berasal dari keluarga mampu.

"Kami pernah berkunjung langsung ke Kalianget. Seorang balita mengalami gizi buruk, bukan karena kemiskinan, namun karena bawaan atau kelainan sejak lahir. Balita ini tidak punya langit-langit, sehingga sulit untuk menelan makanan. Mau dioperasi juga tidak bisa, karena balita ini terlalu kecil," ungkapnya.

 

 

Sumber : idnews dot co dot id

Terpopuler

Terbaru

PEMDA DIDORONG BANTU SOSIALISASI SUBSIDI LISTRIK TEPAT SASARAN

PEMDA DIDORONG BANTU SOSIALISASI SUBSIDI LISTRIK TEPAT SASARAN

SAPA INDONESIA - SUBSIDI listrik untuk 18,7 juta pelanggan...
PERTUMBUHAN TINGGI TAK JAMIN BEBAS MASALAH KEMISKINAN

PERTUMBUHAN TINGGI TAK JAMIN BEBAS MASALAH KEMISKINAN

SAPA INDONESIA - GUBERNUR Bali Made Mangku Pastika mengatakan...
PEMBANGUNAN EKONOMI PERDESAAN BUTUH PENDAMPINGAN BERKELANJUTAN

PEMBANGUNAN EKONOMI PERDESAAN BUTUH PENDAMPINGAN BERKELANJUTAN

SAPA INDONESIA - SEJUMLAH kalangan menilai pengembangan ekonomi...
DIDUGA KORUPSI DANA DESA RP 500 JUTA, KADES DI GARUT DICOKOK POLISI

DIDUGA KORUPSI DANA DESA RP 500 JUTA, KADES DI GARUT DICOKOK POLISI

SAPA INDONESIA - POLISI meringkus pria berinisial Y (41), oknum...

LAPOR!

Untitled Document

Terhubung dengan SAPA

Multimedia

Temukan Kami di Facebook