Terhubung SAPA

Agenda

Data Kemiskinan

Hubungi Kami

Video

Fotografi

11.000 PEKERJA ANAK BAKAL DIENTASKAN

sapa.or.id - Konsistensi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemnakertrans) untuk mengentaskan pekerja anak tidak main-main. Pada tahun 2013 mendatang ditargetkan mampu menarik 11.000 pekerja anak untuk kembali ke dunia pendidikan. Jumlah itu meningkat dibandingkan 2012 yang baru mencapai 10.750 pekerja anak.

"Program penarikan pekerja anak ini dilaksanakan dengan tujuan agar anak-anak Indonesia dapat mengembangkan kesempatan belajar di sekolah dan terbebaskan dari berbagai bentuk pekerjaan terburuk untuk anak (BPTA)," kata Drs Adji Dharma, Direktur Pengawasan Norma Kerja Perempuan dan Anak.

Caranya, para pekerja anak tersebut bakal ditarik dari tempat mereka bekerja. Kemudian mereka ditempatkan sementara di rumah singgah dengan dilakukan pendampingan khusus. Setelah itu mereka dikembalikan ke pendidikan untuk belajar di pendidikan formal SD/SMP/SMA, madrasah dan pesantren dan ketrampilan. Kalau tidak di sekolah formal, mereka bisa mengkuti kelompok belajar paket A, B maupun C.

Pekerja anak yang ditarik tersebut tersebar di 21 provinsi dan 72 kabupaten/kota. Adji Dharma menandaskan, pemerintah konsisten melaksanakan program nasional penanggulangan pekerja anak itu sesuai dengan amanat Keputusan Presiden No.59 tahun 2002 tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk- bentuk Pekerjaan Terburuk Anak.

Kegiatan Pengurangan Pekerja Anak dilaksanakan Mendukung Program Keluarga Harapan (PPA-PKH) dan sasaran utamanya anak bekerja dan yang telah putus sekolah dari Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM).

"Sejak dilaksanakan pada 2008 sampai dengan tahun 2011, sebanyak 11.305 pekerja anak telah dikembalikan ke pendidikan. Pada 2012 ditargetkan menarik 10.750 pekerja anak di 84 Kabupaten/Kota pada 21 Provinsi untuk kembali ke bangku sekolah. Prioritas program ini diarahkan untuk dapat mempercepat proses penarikan para pekerja anak terutama dari pekerjaan-pekerjaan terburuk dan berbahaya seperti perbudakan, pelacuran, pornografi dan perjudian, pelibatan pada narkoba, dan pekerjaan berbahaya lainnya," ujar Adji Dharma menjelaskan.

Pihak Kemnakertrans melalui Direktur Pengawasan Norma Perempuan dan Anak, telah melakukan pendekatan khusus untuk melarang anak usia sekolah untuk bekerja dan para orang tua tidak boleh memaksakan anaknya untuk bekerja apalagi untuk bekerja pada pekerjaan-pekerjaan terburuk dan berbahaya.

"Para orang tua harus tahu bahwa dalam UU perlindungan anak, Pemerintah lakukan pendekatan khusus berupa langkah persuasif hingga penindakan. Bagi orangtua yang tetap memaksakan anaknya untuk bekerja, perlu mendapat tindakan tegas," kata Adji Dharma menegaskan.

Fenomena pekerja anak merupakan masalah yang serius karena mengancam kualitas hidup anak generasi penerus bangsa, hak-hak anak untuk bermain dan belajar dan dalam jangka panjang akan berpengaruh pada masa depan bangsa. Adji meminta penanggulangan pekerja anak menjadi gerakan bersama dan terlembaga di berbagai lapisan masyarakat dan instansi/lembaga terkait agar program tersebut dapat berjalan dengan baik.

"Peran serta masyarakat, pemerintah pusat dan daerah serta instansi terkait dibutuhkan untuk meningkatkan sinergi guna mengurangi jumlah pekerja anak dan mengembalikannnya ke dunia pendidikan," ujar Adji.


Sumber : Harian Bangsa

Terpopuler

Terbaru

DANA DESA RP 79.83 MILIAR DIBAGI, DESA DIDORONG BENTUK BUMDES

DANA DESA RP 79.83 MILIAR DIBAGI, DESA DIDORONG BENTUK BUMDES

SAPA INDONESIA - DANA desa tahap pertama sebanyak 60 % dibagikan...
DANA DESA TERMIN PERTAMA CAIR

DANA DESA TERMIN PERTAMA CAIR

SAPA INDONESIA - DANA desa termin pertama 2017 sudah mulai...
TERAPKAN SISKEUDES, KADES DIMINTA REKRUT SARJANA PENDAMPING

TERAPKAN SISKEUDES, KADES DIMINTA REKRUT SARJANA PENDAMPING

SAPA INDONESIA - PENGELOLAAN keuangan desa berupa dana desa...
BUMDES BUAT DESA LEBIH MANDIRI

BUMDES BUAT DESA LEBIH MANDIRI

SAPA INDONESIA - KEMENTERIAN Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal...

LAPOR!

Untitled Document

Terhubung dengan SAPA

Multimedia

Temukan Kami di Facebook