Terhubung SAPA

Agenda

Data Kemiskinan

Hubungi Kami

Video

Fotografi

DEWI TERKENDALA BIAYA...

kemiskinan-sapa-aids

SAPA - Bayi dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Dewi Kurniasari (10 bulan), tergolek lemah di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetomo, Surabaya, Jatim. Dia menderita atresia bilier atau tidak terbentuknya saluran empedu yang sudah mencapai stadium akhir.

Dewi seperti menunggu sebuah keajaiban untuk tetap bertahan. Jalan satu-satunya, ia harus menjalani cangkok hati. Namun, jalan itu terasa terjal, ia terancam tidak dapat menjalani operasi cangkok hati karena orangtuanya terkendala biaya.

"Kami sementara hanya dapat menstabilkan kondisi pasien dengan menambah albumin (protein dalam darah) dan plasma darah," kata Sjamsul Arief, dokter yang menangani Dewi, Jumat (30/11/2012), di Surabaya. Upaya ini dilakukan sebab kondisi bayi dari pasangan Mansyur (42) dan Saryati (42) ini sudah sangat lemah.

Dewi mulai dirawat di RSUD Dr Soetomo sejak Kamis. Tubuh Dewi kurus dan perutnya membesar. Sjamsul mengatakan, perut yang membesar merupakan tanda fisik dari kerusakan organ hati yang sudah parah.

 

Sejak lahir

Mansyur menambahkan, sejak lahir, Dewi mengalami gangguan pencernaan. Saat buang air besar, kotorannya berwarna putih, memperlihatkan asupan makanan dalam tubuhnya tak sempurna dicerna. "Untuk makan tiada masalah, tetapi pencernaan bermasalah," katanya.

Menginjak usia tiga bulan, perut Dewi mulai membesar. Dokter dari RSUD Blambangan, Banyuwangi, yang sudah mengetahui penyakit itu sudah meminta agar Dewi dirujuk ke Surabaya. Namun, Mansyur terbentur biaya transportasi dan biaya hidup selama di Surabaya.

Manysur mengaku bekerja sebagai buruh serabutan di Banyuwangi, dan Saryati tidak memiliki pekerjaan. Pasangan yang memiliki empat anak ini mengaku kemudian dibantu banyak pihak, mulai dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, wartawan, mahasiswa, hingga pelajar yang menggalang dana mencapai Rp 13,5 juta.

Mansyur dan Saryati hanya bisa pasrah ketika diberi tahu pihak rumah sakit bahwa biaya operasi cangkok hati sangat mahal, yaitu lebih dari Rp 700 juta. "Kami diberitahu, perut anak kami bisa kembali normal. Namun, kami pasrah anak kami tidak dapat sembuh total," kata Mansyur lagi.

Saat ini Mansyur hanya berharap ada pihak yang bersedia mengulurkan tangan, membantunya. Untuk biaya pengobatan (penstabilan kondisi pasien) dibiayai melalui Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

Menurut Sjamsul, penderita atresia bilier lebih mudah ditangani apabila masih berusia satu hingga dua bulan. Dalam usia itu, pasien dapat menjalani operasi kasai atau pembuatan saluran dari hati dan empedu ke usus dua belas jari.

 

Temuan filariasis

Dari Jawa Barat dilaporkan, kasus penyakit kaki gajah (filariasis) di Kabupaten Tasikmalaya cenderung meningkat. "Meski pengobatan massal sudah dilakukan kepada ribuan orang selama lima tahun terakhir, potensi penyebaran filariasis tetap ada," ujar petugas Penanggulangan dan Pengendalian Penyakit di Dinas Kesehatan Tasikmalaya Chefy Hidayat.

Data Dinas Kesehatan Tasikmalaya menunjukkan, kasus filariasis meningkat setiap tahun. Jumlah penderita tahun 2009 tercatat 50 orang, menjadi 60 orang (2010), 62 orang (2011), dan 65 orang tahun 2012. (den/che)

 

regional dot kompas dot com

Terpopuler

Terbaru

PENGGUNAAN DANA DESA PERLU DITINJAU ULANG

PENGGUNAAN DANA DESA PERLU DITINJAU ULANG

SAPA INDONESIA - PENGGUNAAN dana desa yang saat ini cenderung...
SEBAGIAN DANA DESA BANGUN JARINGAN INTERNET

SEBAGIAN DANA DESA BANGUN JARINGAN INTERNET

SAPA INDONESIA - PEJABAT Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten...
DANA DESA UNTUK BUDI DAYA PERIKANAN DARAT

DANA DESA UNTUK BUDI DAYA PERIKANAN DARAT

SAPA INDONESIA - DINAS Kelautan dan Perikanan Kabupaten Mukomuko...
KEJARI BANDA ACEH BENTUK TIM INVESTIGASI DANA DESA

KEJARI BANDA ACEH BENTUK TIM INVESTIGASI DANA DESA

SAPA INDONESIA - KEJAKSAAN Negeri (Kejari) Banda Aceh membentuk...

LAPOR!

Untitled Document

Terhubung dengan SAPA

Multimedia

Temukan Kami di Facebook