Terhubung SAPA

Agenda

Data Kemiskinan

Hubungi Kami

Video

Fotografi

114 RIBU PETANI SAWIT TERANCAM MISKIN

kemiskinan-sapa-petanisawitSAPA - Anjloknya harga sawit dalam sebulan terakhir mengancam 114.596 keluarga petani. Pemprov Lampung harus bergerak cepat agar mereka tidak terjerumus dalam kemiskinan.

Berdasar data Dinas Perkebunan, di Lampung terdapat 114.596 keluarga petani sawit non-plasma (petani rakyat). Jumlah tersebut mencakup perkebunan sawit seluas 80.217 hektare (ha) dengan total produksi 162.953 ton/tahun.

"Jika rata-rata setiap keluarga terdiri dari empat orang, artinya 400 ribu warga Lampung terancam miskin mendadak," kata Kepala Bidang Advokasi dan Kebijakan Publik Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) Lampung Ahmad Suryanto di Bandar Lampung, Minggu (2-12).

Suryanto memperkirakan anjloknya harga sawit hingga menyentuh Rp350/kg dari harga tertinggi Rp1.450/kg akan membuat kesejahteraan petani menurun. Rendahnya harga sawit tidak hanya membuat biaya operasional membengkak, tetapi juga menyulitkan kehidupan petani memenuhi kebutuhan pokoknya.

"Dampaknya petani tidak punya penghasilan dari jerih payahnya menanam sawit," ujarnya.

Ia mendesak Pemprov Lampung proaktif melakukan program nyata untuk menutupi rendahnya pendapatan petani sawit. Misalnya, mengupayakan peningkatan turunan CPO sawit dengan melibatkan swasta dan BUMN melalui pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR).

"Pemerintah harus bergerak cepat. Paling tidak, berupaya untuk mencukupi kebutuhan makan para petani. Tinggal persoalannya, pemerintah mau atau tidak membela petani," ujarnya.

 

Fasilitasi Petani

Secara terpisah, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Lampung Faisol Djausal menyarankan petani non-plasma untuk bersatu dengan membuat pabrik atau membentuk koperasi secara mandiri.

Dengan begitu, nasib petani dapat lebih terjamin dan tidak selalu dihantui kekhawatiran anjloknya harga sawit. "Namun, untuk menuju ke sana pemerintah harus memfasilitasinya," ujarnya.

Menurut Faisol, fasilitas yang diberikan Pemprov bisa berupa perizinan dan permodalan. Ia menilai tingkat pendidikan dan pengetahuan petani masih tergolong rendah. "Ini menjadi tugas pemerintah," ujarnya.

Ia menjelaskan selama ini orientasi pabrik milik perusahaan swasta hanya kepada plasma-inti (kemitraan) dan tidak kepada non-plasma. Dalam jangka pendek, ia menyarankan pihak pabrik untuk menambah daya tampung sawit dari petani.

Selain itu, pabrik yang kondisinya tidak layak harus segera diperbarui sehingga kapasitasnya bisa bertambah. "Sawit tidak bisa disimpan lama, tidak seperti karet," ujarnya.

Dalam sebulan terakhir harga sawit turun drastis. Namun, Pemprov belum melakukan tindakan konkret untuk memperbaiki nasib petani. Dinas Perkebunan Lampung memang berencana menambah pabrik baru di sentra produksi sawit.

Selain itu, berusaha mengaktifkan kembali pabrik sawit yang berhenti beroperasi, seperti PT Barat Selatan Makmur Invesindo (PT BSMI) dan PT Lampung Indah Pertiwi. Namun, rencana tersebut tidak ada realisasinya. "Kami usahakan dan masih dalam proses," kata Sekretaris Dinas Perkebunan Lampung Bambang G.S.

Sumber : Lampost dot co

Terpopuler

Terbaru

KESENJANGAN EKONOMI JOGJA BISA BERBUNTUT KONFLIK SOSIAL

KESENJANGAN EKONOMI JOGJA BISA BERBUNTUT KONFLIK SOSIAL

SAPA INDONESIA - KETIMPANGAN ekonomi atau gini ratio DIY yang...
VALIDASI DATA KEMISKINAN HARUS DIDUKUNG SDM DAN ANGGARAN

VALIDASI DATA KEMISKINAN HARUS DIDUKUNG SDM DAN ANGGARAN

SAPA INDONESIA - MENCERMATI fenomena angka kemiskinan yang...
BELANJA ROKOK MASYARAKAT KULONPROGO TEMBUS RP96 MILIAR PER TAHUN

BELANJA ROKOK MASYARAKAT KULONPROGO TEMBUS RP96 MILIAR PER TAHUN

SAPA INDONESIA - NOMINAL belanja rokok di Kabupaten Kulonprogo,...
SETIAP DESA BERPOTENSI BENTUK BUMDES

SETIAP DESA BERPOTENSI BENTUK BUMDES

SAPA INDONESIA - SETIAP desa memiliki potensi untuk membentuk...

LAPOR!

Untitled Document

Terhubung dengan SAPA

Multimedia

Temukan Kami di Facebook