Terhubung SAPA

Agenda

Data Kemiskinan

Hubungi Kami

Video

Fotografi

KONTRIBUSI INDUSTRI ROKOK KECIL TERHADAP EKONOMI

kemiskinan-sapa-industrirokokSAPA - Konsumsi tembakau di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Saat ini Indonesia menduduki peringkat ketiga di dunia sebagai negara perokok terbanyak setelah China dan India. Besarnya kontribusi industri rokok yang selama ini jadi pertimbangan dan alasan meminimalisir dampak buruk kesehatan akibat rokok, ternyata tidak benar.

"Ternyata kontribusi dan manfaat ekonomi dari industri tembakau lebih kecil dibanding sektor lainnya seperti pertanian tanaman pangan. Apalagi jika dikomparasikan dengan kerugian sosial-ekonomi yang dialami masyarakat, rokok bisa dikatakan sebagai pemicu kemiskinan masyarakat Indonesia," ujar Ketua Bidang III Komisi Nasional Pengendalian Tembakau Tulus Abadi.

Dalam Workshop Pengendalian Tembakau di UMY Kamis (6/12/2012), Tulus mengungkapkan, hanya ada tiga perusahaan besar dari 3.000 perusahaan rokok yang mendominasi hingga 71 persen pangsa pasar komsumen rokok.

Untuk tenaga kerjanya, industri rokok hanya berkontribusi kurang dari 1 persen terhadap total tenaga kerja nasional sejak tahun 1970-an. Upah tenaga kerja industri rokok pun masih minim yakni dengan rata-rata Rp662.149 perbulan.

"Untuk jumlah petani tembakau sendiri, menurut data Departemen Pertanian tahun 2006 ada 684.000 atau hanya 1,6 persen dari total pekerja di sektor pertanian yang berjumlah 42juta. Bahkan penerimaan cukai tembakau bagi negara ternyata hanya 8,4 persen dari sektor pajak dan hanya 5,7 persen dari total penerimaan negara," ungkap Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia ini.

Tulus pun memaparkan, industri rokok terbukti mengeksploitasi masyarakat miskin Indonesia karena 73,8 persen rumah tangga miskin perkotaan adalah perokok. Bahkan rata-rata pengeluaran untuk membeli rokok perminggunya lebih tinggi yakni 22 persen daripada pengeluaran membeli beras yang hanya 19 persen.

"Padahal, perilaku merokok pada keluarga miskin berhubungan secara bermakna dengan gizi buruk balita. Balita yang harusnya terpenuhi kebutuhan gizi untuk pertumbuhannya, menjadi kurang karena pendapatan keluarga terserap untuk rokok," katanya.

Ditambahkan Tulus, sebagai bukti lain, sesuai Survei Sosial Ekonomi Nasional 2003-2005, konsumsi rumah tangga miskin untuk tembakau menduduki peringkat kedua yakni 12,43 persen setelah konsumsi padi-padian yakni 19,30 persen.

Dan kelompok rumah tangga pendapatan terendah ternyata berbelanja rokok lebih besar yakni 12 persen, sementara kelompok pendapatan tertinggi hanya 9,25 persen.


Sindo News dot com

Terpopuler

Terbaru

KUTUH DIJADIKAN “ROLE MODEL” PEMBANGUNAN DESA DI BADUNG

KUTUH DIJADIKAN “ROLE MODEL” PEMBANGUNAN DESA DI BADUNG

SAPA INDONESIA - WAKIL Bupati Badung, Ketut Suiasa, menegaskan...
PEMERINTAH BAKAL TAMBAH DANA DESA 10% DI TAHUN DEPAN

PEMERINTAH BAKAL TAMBAH DANA DESA 10% DI TAHUN DEPAN

SAPA INDONESIA - KEMENTERIAN Keuangan (Kemenkeu) melalui Direktorat...
KEMISKINAN BENGKULU DAN JANJI KPK YANG DILUPAKAN SANG GUBERNUR

KEMISKINAN BENGKULU DAN JANJI KPK YANG DILUPAKAN SANG GUBERNUR

SAPA INDONESIA - GUBERNUR BENGKULU Ridwan Mukti bersama istrinya,...
DANA DESA TAK KUNJUNG CAIR, KEPALA DESA BERANG PEMBANGUNAN TERHAMBAT

DANA DESA TAK KUNJUNG CAIR, KEPALA DESA BERANG PEMBANGUNAN TERHAMBAT

SAPA INDONESIA - PENCAIRAN Dana Desa di Kabupaten Purworejo...

LAPOR!

Untitled Document

Terhubung dengan SAPA

Multimedia

Temukan Kami di Facebook