Terhubung SAPA

Agenda

Data Kemiskinan

Hubungi Kami

Video

Fotografi

DINAS SOSIAL DATA ULANG PENDUDUK MISKIN DI KUTAI TIMUR

Data

SAPA - Data penduduk miskin Kutai Timur masih simpang siur. ini terjadi karena data antara Biro Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kutim, berbeda jauh. Untuk itu, Dinas Sosial yang sangat berkepentingan dalam penggunaan data tersebut untuk penanggulangan kemiskinan akan melakukan pendataan ulang warga miskin Kutim, sesuai dengan versi mereka agar dalam melakukan penanganan kemiskinan tepat sasaran. Hal ini diakui Kepala Dinas Sosial Kutim Mugeni, pada wartawan beberapa hari lalu di Kantor Bupati Kutim.

"Data sangat kami butuhkan dalam penanggulangan kemiskinan. Tapi data yang ada dari BPS dan Disduk Capil, berbeda jauh. Karena itu, kami akan lakukan pendataan ulang warga Kutim yang benar-benar miskin," jelas Mugeni.

Bukan hanya data kemiskinan, tapi jumlah penduduk juga memang sangat jauh berbeda. Karena itu, harus ada pendataan untuk memperoleh data detail, berapa jumlah penduduk Kutim sebenarnya yang miskin. "BPS mengatakan penduduk Kutim lebih 250 ribu orang pada 2010. Disdukcapil sendiri mengakui saat itu sudah 300 ribu lebih, bahkan karena cepatnya pertumbuhan penduduk Kutim, karena itu data terakhir penduduk Kutim sudah mencapai 444 ribu jiwa lebih. Kalau disebutkan yang miskin itu ada 7 persen dari data ini, maka itu jumlah yang cukup banyak. Atau kalau disebutkan BPS ada 9 persen yang miskin, itu akan lebih banyak lagi. Karena itu, perlu data real, yang benar agar dalam penanggulangan kemiskinan instansi terkait tidak salah langkah. Karena ini menyangkut anggaran," katanya.

Namun, meskipun akan melakukan pendataan ulang warga miskin, Mugeni mengakui lebih condong percaya pada data Disdukcapil, karena lebih update. Sebab Disdukcapil selalu memperbaharui data tiap hari, sementara BPS, itu hanya melakukan pendataan pada periode beberapa tahun, sehingga data Disdukcapil mungkin lebih baik. Tapi, untuk persentasie pada periode tertentu, tetap ada pertanyaan, mengapa ada perbedaan.

"Perbedaan persentase kemiskinan ini yang kami ingin cari, mana yang benar. Karena mungkin parameter kemiskinan yang mereka gunakan ini yang berbeda, sehingga terjadi perbedaan persentase kemiskinan. Untuk itu, kami ingin sinkronkan berapa persentase kemiskinan yang benar. Maka data ini yang akan digunakan untuk menanggulangi kemiskinan di Kutim," katanya.

Menurut Mugeni, dengan perkembangan serapan tenaga kerja karena investasi yang sangat pesat di Kutim, kemiskinan itu dapat dipastikan sangat kecil. Untuk daerah terpencil, mungkin memang ada yang miskin, tapi tidak banyak. Karena investasi juga sampai ke daerah terpencil, terutama untuk investasi perkebunan. Yang kelihatan, adalah pendatang, yang memang belum dapat pekerjaan, ini yang banyak dikota, tapi bisa jadi, dalam waktu dekat mereka sudah dapat kerjaan. "Jadi memang relatif, terus berubah. Kalau sudah dapat data pasti, maka penanggulangan kemiskinan yang dilakukan bersama dengan berbagai dinas seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Koperasi, termasuk Badan Perencanaan Pembangunanan Daerah, akan cepat dan tetap sasaran dan berkesinambungan," jelas Mugeni. (jn/agi)

 

sapos dot co dot id

Terpopuler

Terbaru

MENDES INGIN MASYARAKAT KAWAL DANA DESA KARENA RENTAN PENYELEWENGAN

MENDES INGIN MASYARAKAT KAWAL DANA DESA KARENA RENTAN PENYELEWENGAN

SAPA INDONESIA - MENTERI Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal,...
LPJ BELUM MASUK, PENCAIRAN DANA DESA TAHAP 1 TERHAMBAT

LPJ BELUM MASUK, PENCAIRAN DANA DESA TAHAP 1 TERHAMBAT

SAPA INDONESIA - LAPORAN hasil kegiatan penggunaan dana desa...
PKH PANGKAS 250 RIBU WARGA MISKIN

PKH PANGKAS 250 RIBU WARGA MISKIN

SAPA INDONESIA - TAHUN 2017 ini Kementerian Sosial (Kemensos)...
TAGIH DANA DESA RP 54 MILIAR, 119 KADES DI NUNUKAN MOGOK BEKERJA

TAGIH DANA DESA RP 54 MILIAR, 119 KADES DI NUNUKAN MOGOK BEKERJA

SAPA INDONESIA - RATUSAN kepala desa di wilayah perbatasan...

LAPOR!

Untitled Document

Terhubung dengan SAPA

Multimedia

Temukan Kami di Facebook