Terhubung SAPA

Agenda

Data Kemiskinan

Hubungi Kami

Video

Fotografi

PENYELEWENGAN RASKIN OLEH MAFIA DESA

kemiskinan-sapa-mafiaraskinSAPA - Kepala Bagian Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Sekretariat Daerah (Setda) TTS I Made Sara mengatakan, persoalan raskin di TTS terjadi saat pembagian di desa sehingga diduga mafia raskin dilakukan oleh pihak pengelola di tingkat desa bukan di kabupaten. Ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/12), Made mengatakan, sejauh ini pengaduan warga penerima yang masuk ke Bagian Ekbang hanya soal keterlambatan pembagian raskin.

Soal keterlambatan ini, menurut dia, kesalahannya bukan pada aparat pemerintah di tingkat kabupaten, karena Pemkab melalui Bagian Ekbang selalu langsung mendistribusikan raskin setelah pengelola raskin di desa melunasi uang raskin ke Bagian Ekbang. "Keterlambatannya itu dari satker di desa yang lambat setor uang sehingga raskin terlambat keluar. Karena di sini (Ekbang) kalau uang disetor hari ini ke BRI, besoknya berasnya sudah langsung keluar untuk distribusi ke desa," katanya.

Persoalan adanya kelebihan raskin yang kemudian dijual oleh kepala desa seperti yang dikabarkan terjadi di Desa Kakan, Kecamatan Kuanfatu, Made mengaku belum pernah ada pengaduan semacam itu yang masuk ke Bagian Ekbang.

Made mengatakan, sangat tidak mungkin terjadi kelebihan raskin yang disalurkan ke desa karena raskin yang disalurkan sesuai dengan data jatah yang ditetapkan Pemkab. Jika terjadi kelebihan raskin setelah dibagi kepada masyarakat di desa, maka sangat dimungkinkan permainan itu dilakukan oleh pengelola desa dengan cara mengurangi jatah dari masing-masing KK penerima.

"Kalau salurkan lebih itu tidak mungkin karena kita salurkan sesuai penetapan. Dan kalau ada lebih bisa saja pengelola di desa kurangi jatah dari penerima sehingga ada kelebihan setelah dibagi," kata Made.

 

DIJUAL KADES

 

Leonar Taopan, Ketua RT 02/RW 03 Desa Kakan mengatakan, jatah raskin tahap III untuk warga setempat terjadi kelebihan sekitar 800 kilogram setelah dibagi oleh kepala desa dan satker raskin. Kelebihan itu kemudian dijual oleh kades kepada sejumlah aparat desa termasuk dirinya dengan harga Rp 2.000. "Kades memang ada jual beras per kilogram Rp 2.000, saya juga beli tapi saat itu saya tidak tahu kalau itu raskin. Saya baru tahu setelah masyarakat ribut," kata Leonard yang ditemui VN di Kakan.

Imanuel Lada warga setempat mengatakan, warga sudah berencana melaporkan Kades Kakan ke aparat kepolisian soal penjualan raskin tersebut. "Warga menganggap kades menggelapkan raskin mereka," katanya.

Made Sara menambahkan, hingga Jumat (7/12) lalu, kondisi penyaluran raskin di TTS sudah mencapai 91 persen dari total pagu raskin 2012 sebanyak 11.331.150 kilogram. "Penyaluran raskin sudah mencapai 91 persen dari total 11.331.150 ton," katanya .

 

Sumber : Victory News

Terpopuler

Terbaru

BUMDES PERLU SERAP PRODUKSI PERTANIAN

BUMDES PERLU SERAP PRODUKSI PERTANIAN

SAPA INDONESIA - BADAN Usaha Milik Desa (BUMDES) perlu untuk...
YASIN LIMPO: GUBERNUR JANGAN BIARKAN KADES DISOAL DANA DESA

YASIN LIMPO: GUBERNUR JANGAN BIARKAN KADES DISOAL DANA DESA

SAPA INDONESIA - KETUA Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh...
BAWA DUNIA USAHA MASUK DESA, MENDES PDTT DAN MENTAN BERSINERGI

BAWA DUNIA USAHA MASUK DESA, MENDES PDTT DAN MENTAN BERSINERGI

SAPA INDONESIA - PRODUK jenis jagung di Bengkulu Selatan jadi...
BUPATI PURWAKARTA INGATKAN KADES TAK BIKIN KUITANSI FIKTIF DANA DESA

BUPATI PURWAKARTA INGATKAN KADES TAK BIKIN KUITANSI FIKTIF DANA DESA

SAPA INDONESIA - BUPATI Purwakarta Dedi Mulyadi mengumpulkan...

LAPOR!

Untitled Document

Terhubung dengan SAPA

Multimedia

Temukan Kami di Facebook